Senin, 15 November 2010

Again

I will pursue this dream, 'cause I know it's expected
that I be serene
Upon this winding road, in the face of the crowds that bustle all around
Although it seems like I am chasing after the past, what I want is place where the sky is alive and like home to me
Please to try to understand the truth
That this is no choice
And I wish you'd stop with that look
Of despair
You're giving me

Tears are nothing but the shape of our weakness
And they won't bring any absolution
I do not see an end to this labyrinth
Who am I waiting for--
And
I write it down in the pages of my notebook
'Cause I'm looking for the me that is still honest
I am running but I don't even know why
From this reality

To chase my wishes I'll carry on living
And I will always remember the depths of the darkness
I'll face my demons and I'll no longer run away
There isn't a place to go
I'll lose this feeling of being so helpless
'Cause my whole life is ahead of me
I'll quash the numbness
'Cause pain's better than the emptiness

I must apologize, I've really messed up and
I am so ashamed
I may not say it much,
But I know that I make you worry all the time

Back then you always could accept the things I'd done
And you're still the same today so I'll try not to burden you
But try to realize that I have closed my eyes
Just because the world is too harsh
And I'm willing to blind myself

Rumors that they have spread about us
I do not know which was the first one
"We were friends from the second that we met,"
Just stop with the lies already
And my heart turned red with this passion
And it almost consumed my very being
'Cause in truth I'd held onto hope
From this reality

To chase my wishes I'll carry on living
And I really want to scream out, but can you even hear me?
I'll face my demons, and I'll no longer run away
There isn't a place to go
I still am grateful for the care you've shown me
So I'll find the strength to make it count
I'll always move onward
Facing my friends and foes alike

How do you unlock this door that has no key?
Can you think of a way?

We can't go back to the beginning
The story is set, and our destinies too

Open up your eyes
Open up your eyes

I'll lose this feeling of being so helpless
'Cause my whole life is ahead of me
And the things I once abandoned
I want to try and find again

Come on, just one more time

To chase my wishes I'll carry on living
And I really want to scream out, but can you even hear me?
I'll face my demons, and I'll no longer run away
There isn't a place to go
I still am grateful for the care you've shown me
So I'll find the strength to make it count
I'll quash the numbness
'Cause pain's better than the emptiness


in famaous by YUI

Rain

June’s lies and the truth in front of my eyes... 
are put away in sepia tones..
Nestling close to one another, warmth.
I don’t understand those things anymore

“You’ll be fine on your own… right?”  
you said, forcing it upon me
and then you said goodbye...

If it’s going to be that kind of consolation
then I should be tired of hearing it by now...
Endlessly ringing: the merciless memories, seem to have no intention of  forgiving me
If i close my eyes...
they will only grow...
surrounding me at a distance...
you laugh...

Will the rain ever stop, I wonder?  
For a pretty long time now... it’s been cold
Why does the rain choose me?
...Why does it choose me?
........Who has nowhere to escape to?

Time intrudes on the new morning...
I finally found, The direction I face...
is not the future I kept chasing after the past..

You, who gave me a new start, by your consolations and the hateful and cowardly me.
It’s about time…
Fumbling,  my troubles spill down my tired cheeks...
Eyes that don’t want to know the past...
And fingers that can wash it all away...
Scars heal at a gentle pace, at an unreachable distance.... that seems to be within reach
Will the rain ever stop, I wonder? For a pretty long time now...
it’s been cold...
Why does the rain choose me? I wonder if it’s ok to let it cover me...
The rain keeps on falling today as well knowing no end...
While we quietly nestle together under the umbrella I hold...

in famous by SID

Sabtu, 06 November 2010

Resah dalam rindu

Malam...
satu, dua, tiga, sudah ku hitung berapa kali aku berpikir.
tak acap kali banyak slide2 yg bertebaran di mata otakku. bukan sebuah slide yang berisi bahan2 kuliah ato semestinya. tapi sebuah barikade pikiran yg memukul bertubi2 akan sebuah impian dan keyakinan.
seperti bedug dan entahlah apa yg ingin kau umpamakan, tapi ku butuh pelampiasan untuk menyalurkan sepercik "racun" yg menggerus  di hatiku... ku hanya tak kuasa jika racun ini membumbui perasaan rinduku kepadanya yang menyebabkan tali hubungan kita menipis.
banyak kata yg ada di otakku, tapi ku tak sanggup sedikitpun untuk mengikuti kecepatannya dalam berbicara, ibarat jika kita mulai start sama2. aku masih menyentuh huruf "c" maka otak ini sudah berada pada "Z".
mungkin terlalu berlebihan, atau entahlah kalian akan menyebutnya seperti apa. Tapi kenyataan itu tak ubahnya seperti Api. meski kecil dia akan tetap menyala. andai masa depan adalah sebuah objek, ku akan berlutut untuk memohon kepadanya satu saja. "ku ingin agar selamanya bisa terus tetap setia, ku ingin agar hanya tetap dia yg ada di hati ini". mungkin bagi sebagian orang ini terlihat sengatlah konyol... tapi ideologiku dalam berpikir tak bisa disamakan dengan pola "ortodoks", karna egoismeku adalah seorang angin yg tak bakal bisa kalian tangkap.
Maka......
jika kalian anggap ini adalah lucu. ku akan berteriak! kuingin seluruh Dunia ini tahu. dan seluruh Mahkluk di alam ini mengerti.... bahwa hanya ada satu orang yg ada dihatiku. dan selamanya dia tak akan pernah dapat digantikan!.

karna baru kali ini lah ku bisa merasakan hal yg amat sedalam ini....

untuknya...
Yusnita wahyu krismawati

Kamis, 28 Oktober 2010

EKSISTENSI PERS KAMPUS

Ketika seseorang mulai menjajaki dunia kampus, seketika  akan dirasakan arti dari sebuah kebebasan ideologi demokrasi. Biasanya orang akan mulai mencari jati diri dan arti dari hakikat kebebasan berawal. Dari sini, keingintahuan (curiousity) akan sebuah doktrin dan ideologi dan perkembangan di dunia luar menjadi sebuah kebutuhan yang cukup ‘sangat’ bagi para civitas kampus. Ibarat ‘air’ yang dapat memberikan kebutuhan kepada masyarakat. Maka lahirlah pers yang juga dapat memberikan sebuah wacana bagi mereka yang selalu ingin membuka mata dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya.
Lahir dari perjuangan keinginan untuk menentang sebuah ketidakadilan dan kezaliman. Maka ia menjadi sebuah media ‘senjata’ utama untuk melawan ketidakadilan tersebut dikenal sebagai PERS. Tidak juga jauh berbeda dari ‘induknya’  karena ia lahir dari kampus dan mengambil wacana dari kampus dan meski sedikitnya juga mengamati apa yang terjadi didunia luar’nya’ maka dikenal dengan sebutan pers kampus.
Namun dewasa ini, keberadaan pers kampus saat ini mulai tidak terdengar dimasyarakat. Hal ini mulai terjadi pasca reformasi sosial, setelah usahanya dalam memperjuangkan kebebasan dan mempertahankan aspirasi masyarakat akan ‘kekangan’ sosial, media pers kampus sedikitnya dan terus menerus mengalami kemunduran. Jika boleh dibilang ‘capek’, media pers kampus seakan-akan juga ‘lelah’ setelah perjuangannya membuka mata dunia saat itu, maka terasa sekali vakum yang terlihat saat itu.
Memperjuangkan ideologi hanya dengan berteriak dan berorasi di gedung DPR(misal), akan cukup mudah dihentikan hanya dengan sekali ‘DOR!’. Dibanding dengan seseorang yang berupaya memperjuangkan opininya lewat tulisan. The man behind pen, sangatlah jelas bahwa ia dapat menjadi sebuah senjata yang berbahaya melebihi ‘api’ sekalipun. Penyodoran data, bukti, dan fakta serta analisis yang kuat dapatmenjadikan sebuah tulisan itu menjadi senjata yang dapat membukakan mata seluruh dunia. Bahkan hanya sebuah slentingan, dapat menjadikan sebuah isu yang akan cepat berkembang dan tahan lama dalam masyarakat.
Ideologi untuk mempertahankan apa yang dirasa benar seolah-olah kini selalu tertutupi oleh bayang-bayang yang tidak jelas. Entah itu karena kurang beraninya para pelaku jurnalist dalam membuka sebuah keganjalan atau karena masih adanya kekangan dari pihak-pihak tertentu yang masih membatasi pers dalam bekerja. 
Setali tiga uang, seakan-akan seluruh substansi media pers kampus masih belum dapat berkembang. Reformasi dirasa cukup dibutuhkan untuk kembali memunculkan kembali eksistensi media pers kampus di mata masyarakat dan khususnya para civitas kampus. Di sini muncul wacana baru, ‘reformasi’ seperti apakah yang dibutuhkan saat ini? Maka disini kita yang masih menjadi bagian dari masyarakat kampus yang harus mencari solusinya. Karena dilihat dari peran pentingnya, pers kampus akan terus menjadi ujung tombak mahasiswa untuk mempertahankan kebenaran.
Salam Pers Mahasiswa…!!!